28 Mei 2012

Bakau Untuk Ekoreko -2-

0 komentar
Kamis (17/5) tanggal merah di kalender, tanggal merah juga untuk shift saya yang baru lepas jaga malam, Langit cerah ceria setelah seminggu dinaungi mendung dan hujan. Kebetulan yang sempurna. Lalu saya menyadari satu hal, perjalanan ini terberkati.
Sambil menahan kantuk dan kelelahan yang sangat setelah dua malam berturut-turut begadang nguli shift malam, saya pulang dan langsung menyiapkan diri untuk berangkat. Sempat berpikir untuk tidur sejenak sambil menunggu teman-teman FC yang masih mengikuti Misa Kenaikan Yesus Kristus, tapi rasa excited rupanya mengalahkan rasa ngantuk.

Petani Bakau Dadakan Di Atas Kapal Barona

   

Pukul 11.00 wita setelah member semua member FC berkumpul di pantai Pu’urere, kami berdoa memohon kelancaran atas segalanya. Dengan Kapal Motor Barona, milik Abah Rifan―salah seorang member FC―kami berangkat. Kapal yang biasa digunakan untuk menangkap ikan hari itu beralih fungsi mengantar 20-an petani bakau dadakan. Yah, petani bakau dadakan, karena semuanya masih virgin perihal tanam-menanam bakau. tapi melihat 200 bibit bakau itu seperti merangsang semangat kami untuk bergelut dengan pasir dan air laut.
Di atas kapal kami disuguhi Singkong rebus dan ikan teri. Hmm.. cukup menggugah. Sayang saya sea sick. 

Encim Tuteh dan Mas Sony menuju bahtera bahagia :p


Touchdown Ekoreko. Udara panas khas Pulau Ende menyambut kami. Salah satu member, Armando langsung melompat cebur dari atas kapal, berenang menikmati laut dangkal Ekoreko yang biru kehijauan.
Ternyata perjuangan kami belum selesai karena kami masih harus berjalan menuju lokasi penanaman yang kira-kira nyaris  1 km. Dengan berbekal tempurung dan peralatan seadanya kami mulai menggali. Setelah diberikan patokan jarak antara bibit 1 meter. Jadilah member FC siang itu jam 1 siang berjemur menambahkan kadar ke-eksotik-an. Berjejer membuat lubang di bawah terik matahari, untuk ditanami bibit bakau. Sejumlah warga dikerahkan oleh Pak Kepala Desa untuk ikut membantu kami. 


Pantai Ekoreko dan masih harus berjalan menuju lokasi


Kepala Desa sendiri sebelumnya sulit kami hubungi karena kontak yang kami dapat ternyata tidak aktif. Tapi syukurlah, pada hari H encim Tuteh berhasil menghubungi dan bertemu langsung dengan beliau di pelabuhan Ende.
Lubang-lubang sudah diisi oleh bibit bakau dan disirami. Siram pakai air laut tentunya.
Kami stirahat, duduk selonjoran di pasir pantai, di bawah rindang pohon waru, memandangi jejeran 200 bibit bakau yang baru saja kami tanam. Lelah tentu saja, tapi kami puas.
Acara makan siang yang telat itu kami disuguhi oleh makanan khas Ende, apalagi kalau bukan Wa’ai Punga dan Ika Nasu Ae Nio.
Menu itu disiapkan oleh sepupu saya yang memang orang Pulau Ende, sebelum berangkat saya minta untuk menyiapkan makanan ala kadarnya. Dan ternyata makanan daerah itu banyak peminatnya padahal sebelumnya sudah dipesan untuk masing-masing bawa ransum.

Dibantu sama warga Desa Ekoreko


Setelah keyang sebagian teman lari dan menceburkan diri, berenang dan main air sepuasnya.
Sekitar jam 04.30 sore kami bersiap pulang. Foto narsis jangan ditanya lagi, setiap momen adalah sesuatu yang patut diabadikan dalam jepretan kamera dan video recorder. Untungnya juga member FC punya tukang jepret―Enol, yang tidak lelah dipanggil di sana-sini dimintai foto. Foto-foto di blog ini juga hasil jepretan Enol.
Kami pulang dengan sejuta harapan yang kami semai bersama bakau itu, berharap dari 200 bibit bakau itu akan ada yang tumbuh subur menaungi sudut pantai Ekoreko, Pulau Ende.
Kami pulang saat langit mulai kelabu menjauhi semburat senja yang samar dan beberapa kali ikan lumba-lumba menampakkan diri di sisi kiri kapal. Sore itu laut agak sedikit bergelojak. Tapi kami senang. Satu rencana kegiatan kami terlaksana. Alhamdulillah sangat. Terimasih juga untuk pihak yang membantu pendanaan kegiatan kami.

Bakau! tumbuhlah yang subur di pantai Ekoreko.



Bakau Untuk Ekoreko -1-

1 komentar
“Encim, ini bemana, ketemu dulu kita bicara penting nih. Kalo memang mau hari kamis berangkat. Encim di mana? Pak Kepdesnya tir datang nih.”

“Encim di kantor, nak. Datang saja encim tidak bisa keluar soalnya ada kerjaan banyak ini.”

“Jang di kantor, sa ada powa―lusuh―nih. Ketemu di mana kek gitu.”

“Ho, na baek su, kita ketemu di WD samping kampus ee.”

“Oke sip.”



Jadilah pagi itu saya dan encim Tuteh bertemu di Warung Damai, sambil menunggu pesanan masing-masing satu porsi bakso. Saya yang sebelumnya ditugaskan untuk menemui Kepala Desa Ekoreko di Pelabuhan Laut Ende-Pulau Ende, ternyata tidak berhasil menemui Kepala Desa yang menurut informasi yang saya dapat dari sepupu, Kepdes itu tiap hari berangkat ke Ende. Jadi pagi itu saya menunggu dengan was-was sang Kepdes di pantai Ende bersama sepupu. Kepala Desa ternyata tidak ke Ende, ada rapat katanya.

Sementara itu di pantai itu juga saya ngobrol dengan seorang Bapak yang kata Ami―sepupu saya―masih tokoh masyarakat di Pulau Ende.

Itulah yang mengantarkan saya sampai nyasar di Warung Damai sepagi ini bertemu encim Tuteh. Kata Bapak itu kami harus meminta izin atau paling tidak harus sepengetahuan Kecamatan setempat. Kami tidak berpikir sebelumnya akan berurusan dengan birokrasi Pemerintahan di Kecamatan Pulau Ende. Ini pengalaman pertama kami tentang bakau.

Pikirnya tinggal datang, tanam dan selesai. Kembali ke Ende.

Setelah perjuangan yang telah di tempuh oleh 3 orang teman kami termasuk di dalamnya Encim Tuteh, Yano dan Bastian dalam membeli bibit bakau di Kabupaten sebelah―Maumere, perjalanan ratusan kilometer dengan menggunakan sepeda motor di tengah cuaca yang tidak bersahabat alias hujan dan medan Trans-Flores yang cukup menyita tenaga dan konsentrasi, kami pikir segalanya bakal mudah setelah bibit ada di genggaman kami. Kenyataannya lain, bibit itu harus segera ditanam, maksimal seminggu di daratan.
Pada mulanya agenda penanaman bakau itu ada di bulan Juni, rencananya bibit itu akan dipelihara di rumah saya terlebih dahulu.

Tidak boleh lama, begitu kata Baba Akong―pembudidaya Bakau yang sudah mendapat Kalpataru hingga masuk ke Kick Andy! Acara tivi yang terkenal itu.

Bibit itu tiba hari Minggu (14/5), kebetulan hari Kamis (17/5) ada tanggal merah. Sepakatlah member Flobamora Community untuk berangkat hari kamis itu.
Tapi kendala muncul. Selama seminggu ini cuaca Ende agaknya kurang bersahabat,langit mendung dan hujan terus menerus. Kami mulai cemas kalau harus berlayar dengan kondisi cuaca itu. tapi agenda adalah agenda. Niat adalah niat. Harus tetap dijalankan. Itulah Flobamora Community. Ada kemauan ada jalan.


Setelah tidak berhasil menemui Kepdes hari Selasa (15/5) kami juga harus menghubungi Kantor Kecamatan setempat untuk perizinan sepertinya hal yang memusingkan. Karena kami semua masih dalam hari kerja. Saya sendiri masih harus masuk shift malam sebelum dapat jatah libur di hari kamis nanti. Sementara perjalanan ke Pulau Ende hanya ada 2 jadwal pelayaran Ende-Pulau Ende, jam 9 pagi dan jam 2 siang, setelah itu tidak ada lagi jadi kemungkinan yah harus nginap.

Saya dan encim Tuteh menghubungi Noni yang kenalan di Pulau Ende untuk sekedar bertanya perihal surat izin dsb. Syukurlah ia punya kenalan pegawai kantor camat. Kami melobi kalau bisa surat itu dikirim atau dititipi saja karena kami belum bisa berangkat untuk bertatap muka langsung dengan orang Kecamatan. Ternyata boleh. Alhamdulillah.

Di warung WD saya dan encim mengontak Noni dan membicarakan perihal surat izin. Minimal Rabu besok surat sudah harus sampai di Kantor Camat jika ingin hari kamis berangkat.
Sepakatlah bahwa besok saya yang akan mengirim surat itu ke Pulau Ende, dititipkan di anak buah kapal penumpang yang saban hari ke Ende.

Rabu (16/5) selepas jaga dengan muka yang kelelahan dan kusam habis begadang semalaman, saya mengambil surat di rumah Encim Tuteh dan meluncur ke pantai, Pelabuhan Kapal Motor untuk rute Ende-Pulau Ende. Dititipkan di Abk yang sering menerima titipan barang, lengkap dengan uang rokoknya. Kami berjudi dengan waktu karna jam hari ini adalah hari terakhir kerja sebelum long weekend karena cuti bersama.

Selesai. Hanya berharap surat itu hanya untuk diketahui Pemerintah setempat bahwa kami akan melaksanakan kegiatan kami besok di desa Ekoreko. Berharap tidak akan terjerat urusan panjang birokrasi Pemerintahan. Dan berharap ada sedikit keajaiban dari langit, semoga Kamis nanti cerah dan laut tenang.

Karena 200 bibit bakau menunggu untuk ditanam sebelum mereka mati percuma. 

 ---


24 April 2012

Think Before Posting: Pencerahan dari Internet Sehat

8 komentar

Think Before Posting!
Kalimat simple tapi bermakna dahsyat. Tentu semua orang berpikir sebelum posting. Tapi belum tentu semua pikiran itu menyangkut akibat yang akan ditimbulkan.
Sebagian besar hanya berpikir untuk menuruti kata hati yang penting segala unek-unek dikeluarkan. Menulis di social media sesuka hati lantaran disana tertulis ‘what’s on your mind?’ ‘what’s happening?’ dan lain sebagainya.

Sabtu, 21 April 2012 bertepatan dengan Hari Kartini ada Seminar bersama  Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT), Internet Sehat, dan LKUF. 
Setelah sibuk-sibuk dengan kepanitian dan urusan konsumsi saya merasa tertarik untuk turut masuk ke dalam aula. Sayangnya saya hanya bisa mengikuti materi terakhir di acara seminar, kebetulan materi dari Kang Asep Syaripudin dari Internet  Sehat.
Menarik sekali bagi saya, mengingat selama ini pengguna social media disini−seperti kata Kang Asep, anak Alay dengan gaya tulisan yang sudah kita ketahui bersama huruf besar kecil dan angka serta symbol bercampur menjadi satu, belum lagi gaya foto. Selain itu banyak yang mementingkan banyak jumlah teman di social media, berapa banyak komen yang ia peroleh tanpa memikirkan dampak dari tulisan, foto atau video yang mereka muat ke social media.
Lantas saya berpikir ke belakang. 

Deg!
Saya pernah alay.
Mungkin dengan asal upload konten ke social media. Atau menulis yang tidak membawa hal positif.
Apalagi ketika Kang Acep bertanya, “Siapa disini yang akun Facebooknya disetting privacy-nya?”
Tiba-tiba saya mengangkat tangan sekalipun tidak tinggi sih. Cuma ada saya seorang di pojok belakang.

Malu.

Akun saya diprotek setelah beberapa kejadian yang bagi saya mengganggu.
Sebelumnya album foto saya yang tidak diprotek, padahal data lain diseting privacy-nya. Mungkin ini juga akibat dari kecerobohan saya sebelumnya, menerima pertemanan lantaran mutual friendsnya banyak. Dan saya suka foto-foto. Tapi kalau foto model anak alay itu sudah jauh jaman dahulu. Sudah pensiun dari situ. Alhamdulillah. Sekalipun kata Kang Acep lagi, “Anak Alay itu mandiri lho, mau foto dari ketinggian 100 meter dia bisa sendiri….”
(Tidak mau mandiri ah, mau manja saja. Minta difotoin. Eh?!)
Mengingat bagaimana foto saya diambil sama teman Facebook yang entah bagimana mendapatkan kontak handphone saya dan mengirim MMS yang berisi foto saya, saya. Dan kejadian lain, temen dari teman saya, menemukan foto saya jadi wallpaper teman dari temannya. Ah, ribet. Pokoknya foto saya sudah diambil tanpa izin. Padahal sebelum-sebelumnya saya berpikir ini dalam album saya adalah milik saya, terserah saya mau upload apa, toh juga saya bukan artis atau orang terkenal atau orang cantik yang fotonya layak diambil. Ternyata saya salah besar.
Think Before Posting, itu yang terbaik!
Berpikirlah sebelum menyesal :D

Aniwey, thanks sangat untuk Internet Sehat yang saudah berani datang ke Ende. Sekalipun ‘kepolosan’ kami yang mungkin membuat Kang Acep, Mbak Dewi atau Mas Tjatur jengah, tapi itulah kenyataan kami disini. Setidaknya dengan adanya kegiatan seperti ini pemikiran kami di sini menjadi lebih tercerahkan. Kapan-kapan ke Ende lagi yah, Internet Sehat.

18 April 2012

Sebait Senja -7-

0 komentar
Kau lari ke pantai untuk menemui senja

Kau berteriak dan memaki rindumu

Kau mengguling kaki celanamu, mendorong perahu

Dimana kau akan menjala?

Kembalilah ke daratan, karena rindumu ada disana

Ia menunggumu di layar kotak yang membisu
 
Kirimlah pesan untuknya.

.......



17 April 2012

Sebait Senja -6-

0 komentar
Senja bisu di antara aku dan kamu

Hanya hening

Hanya kerutan kening

Tiba-tiba hatiku membiru

Rasanya ingin berlari ke pelukmu

.....



older post