Kamis (17/5) tanggal merah di kalender, tanggal merah juga untuk shift saya yang baru lepas jaga malam, Langit cerah ceria setelah seminggu dinaungi mendung dan hujan. Kebetulan yang sempurna. Lalu saya menyadari satu hal, perjalanan ini terberkati.
Sambil menahan kantuk dan kelelahan yang sangat setelah dua malam berturut-turut begadang nguli shift malam, saya pulang dan langsung menyiapkan diri untuk berangkat. Sempat berpikir untuk tidur sejenak sambil menunggu teman-teman FC yang masih mengikuti Misa Kenaikan Yesus Kristus, tapi rasa excited rupanya mengalahkan rasa ngantuk.
Sambil menahan kantuk dan kelelahan yang sangat setelah dua malam berturut-turut begadang nguli shift malam, saya pulang dan langsung menyiapkan diri untuk berangkat. Sempat berpikir untuk tidur sejenak sambil menunggu teman-teman FC yang masih mengikuti Misa Kenaikan Yesus Kristus, tapi rasa excited rupanya mengalahkan rasa ngantuk.
| Petani Bakau Dadakan Di Atas Kapal Barona |
Pukul 11.00 wita setelah member semua member FC berkumpul di pantai Pu’urere, kami berdoa memohon kelancaran atas segalanya. Dengan Kapal Motor Barona, milik Abah Rifan―salah seorang member FC―kami berangkat. Kapal yang biasa digunakan untuk menangkap ikan hari itu beralih fungsi mengantar 20-an petani bakau dadakan. Yah, petani bakau dadakan, karena semuanya masih virgin perihal tanam-menanam bakau. tapi melihat 200 bibit bakau itu seperti merangsang semangat kami untuk bergelut dengan pasir dan air laut.
Di atas kapal kami disuguhi Singkong rebus dan ikan teri. Hmm.. cukup menggugah. Sayang saya sea sick.
| Encim Tuteh dan Mas Sony menuju bahtera bahagia :p |
Touchdown Ekoreko. Udara panas khas Pulau Ende menyambut kami. Salah satu member, Armando langsung melompat cebur dari atas kapal, berenang menikmati laut dangkal Ekoreko yang biru kehijauan.
Ternyata perjuangan kami belum selesai karena kami masih harus berjalan menuju lokasi penanaman yang kira-kira nyaris 1 km. Dengan berbekal tempurung dan peralatan seadanya kami mulai menggali. Setelah diberikan patokan jarak antara bibit 1 meter. Jadilah member FC siang itu jam 1 siang berjemur menambahkan kadar ke-eksotik-an. Berjejer membuat lubang di bawah terik matahari, untuk ditanami bibit bakau. Sejumlah warga dikerahkan oleh Pak Kepala Desa untuk ikut membantu kami.
| Pantai Ekoreko dan masih harus berjalan menuju lokasi |
Kepala Desa sendiri sebelumnya sulit kami hubungi karena kontak yang kami dapat ternyata tidak aktif. Tapi syukurlah, pada hari H encim Tuteh berhasil menghubungi dan bertemu langsung dengan beliau di pelabuhan Ende.
Lubang-lubang sudah diisi oleh bibit bakau dan disirami. Siram pakai air laut tentunya.
Kami stirahat, duduk selonjoran di pasir pantai, di bawah rindang pohon waru, memandangi jejeran 200 bibit bakau yang baru saja kami tanam. Lelah tentu saja, tapi kami puas.
Acara makan siang yang telat itu kami disuguhi oleh makanan khas Ende, apalagi kalau bukan Wa’ai Punga dan Ika Nasu Ae Nio.
Menu itu disiapkan oleh sepupu saya yang memang orang Pulau Ende, sebelum berangkat saya minta untuk menyiapkan makanan ala kadarnya. Dan ternyata makanan daerah itu banyak peminatnya padahal sebelumnya sudah dipesan untuk masing-masing bawa ransum.
| Dibantu sama warga Desa Ekoreko |
Setelah keyang sebagian teman lari dan menceburkan diri, berenang dan main air sepuasnya.
Sekitar jam 04.30 sore kami bersiap pulang. Foto narsis jangan ditanya lagi, setiap momen adalah sesuatu yang patut diabadikan dalam jepretan kamera dan video recorder. Untungnya juga member FC punya tukang jepret―Enol, yang tidak lelah dipanggil di sana-sini dimintai foto. Foto-foto di blog ini juga hasil jepretan Enol.
Kami pulang dengan sejuta harapan yang kami semai bersama bakau itu, berharap dari 200 bibit bakau itu akan ada yang tumbuh subur menaungi sudut pantai Ekoreko, Pulau Ende.
Kami pulang saat langit mulai kelabu menjauhi semburat senja yang samar dan beberapa kali ikan lumba-lumba menampakkan diri di sisi kiri kapal. Sore itu laut agak sedikit bergelojak. Tapi kami senang. Satu rencana kegiatan kami terlaksana. Alhamdulillah sangat. Terimasih juga untuk pihak yang membantu pendanaan kegiatan kami.
Bakau! tumbuhlah yang subur di pantai Ekoreko.








